Langsung ke konten utama

Chapter 1 : Appearance

Word Count : 2384

Edit Count : 1

Akira melihat kearah jam dinding perak yang tergantung di dinding ruang makan

Akira melihat kearah jam dinding perak yang tergantung di dinding ruang makan. Jam 8 lewat 10 menit. Ibunya akan selesai memasak sekitar setengah 8. Dia mempunyai 20 menit untuk merapihkan meja makan dari kertas-kertas dan laptopnya. Ia menghela nafas yang dalam, aroma masakan ibunya sudah tercium, dan mulai merapikan meja makan.

Akira merupakan anak adopsi dari pasangan Mercyon, ayahnya adalah pewaris perusahaan teknologi kecil milik kakeknya. Dia adalah anak yang berbakat dari kecil, bagaikan spotlight panggung dunia selalu menyorotinya. Mulai dari juara dunia ice skating sejak menginjak umur 15 tahun hingga menjadi aktor terkenal di usia 20 tahun.

Namun, sepertinya dunia melupakannya. Sejak kecelakaan mobil yang menyebabkannya harus menggunakan kursi roda seumur hidupnya, dia tidak pernah mendapatkan spotlight seperti sebelumnya. Hah, lupakan itu, dia bahkan tidak pernah lagi menginjak panggung yang selama ini dia kuasai. Terjebak menjadi penonton, bekerja dari rumah dengan laptopnya, di sebuah pekerjaan yang ia benci.

Tapi, itu 6 tahun yang lalu. Akira sudah lelah membenci keadaannya. Lagipula, dia masih mempunyai keluarganya disampingnya dan juga teman-teman setianya.

Jam 8 lewat 25 menit. Akira sudah selesai merapikan meja makannya. Kertas-kertas yang tadi berceceran telah diletakannya di kamarnya. Sekarang, hanya ada taplak meja merah beserta 3 piring dan tiga gelas di atasnya. Bagian tengah meja itu kosong, siap untuk diduduki oleh hidangan yang nantinya akan disajikan.

Ayahnya keluar dari kamarnya dengan meregangkan tangannya ke atas. Dia duduk di ujung meja makan, tidak lupa untuk mengacak-acak rambut anaknya dalam perjalanannya.

"Bagaimana kerjaanmu hari ini?" tanya ayahnya.

"Yah, kliennya masih mau perubahan skripnya. Padahal, deadlinenya sebentar lagi," jawabnya dengan lekukan tipis di bibirnya.

Ya, sekarang dia bekerja menjadi penulis skrip. Menulis skenario untuk orang lain perankan, sementara ia menonton dari kejauhan. Bahkan tanpa klien yang menyebalkan, Akira sudah muak terhadap pekerjaan ini.

"Hmm," Ayahnya menatap lurus ke matanya, "tapi kamu juga udah sering ketemu sama klien yang begini."

Akira tersenyum. Bagi orang luar yang menatap ke dalam, kata-kata itu mungkin terkesan meremehkan. Namun, setelah hidup dengan ayahnya selama 16 tahun, Akira tahu bahwa ayahnya hanya menganggap dia jauh lebih mampu untuk menghadapi situasi itu.

"Udah-udah ngomongin pekerjaannya," Ibunya teriak dari arah dapur.

Seorang wanita berumur 40-an datang sambil membawa nampan di tangan kirinya. Ibunya meletakkan piring hidangan satu persatu ke atas meja makan.

Hidangan pertama adalah ayam mentega dengan irisan bawang putih. Akira melihat mata ayahnya membesar sebelum menatap ibunya. Sang ibu tau apa yang dilakukannya, senyuman licik menghiasi wajahnya. Bagaimana tidak? Dia sengaja memasak makanan kesukaan suaminya tanpa pemberitahuan apa-apa hari ini.

Hidangan kedua adalah tumis kankung. Akira mengkerutkan wajahnya. Dia tidak suka sayuran sama sekali. Pasti ibunya akan memaksanya kali ini.

Hidangan ketiga –

Boom!

Sebuah guncangan hebat menggetarkan seluruh ruangan yang ditempatinya. Sepiring ikan goreng kesukaannya jatuh dan menghantam hidangan lain di meja makan, menyebabkan semua pecah dan berhamburan. Gelas-gelas di meja yang dia telah susun juga berjatuhan. Yang tergeletak di atas meja tidak pecah namun yang menggelinding ke lantai mempunyai nasib yang berbeda.

Ketiga orang di ruang makan itu hendak melarikan diri. Ya, itu rencananya sebelum dua jendela melayang bercahaya aneh mencul didepan mereka.

Akira membaca jendela pertama di kirinya.

[Selamat, anda telah teregistrasi sebagai pemain "Akira Mercyon" (lvl.1)!

Berikut adalah hadiah untuk pemain baru :

- [L] Path of Mages (lvl.1) – memberikan kekuatan sihir 'cahaya' kepada pemain (cooldown : 0 detik)

- [A+] I Choose You! – meningkatkan keefektifan skill seseorang sebanyak 150% (cooldown : 10 menit)

Aneh.

Format ini mengingatkan Akira terhadap game yang pernah dimainkannya sebelumnya. Tapi, ini adalah dunia nyata. Apa ini prank?

Akira membaca jendela di kanannya. Jendela itu hanya berisi list nama-nama orang terkenal dengan poin di samping namanya. Di atas list itu terdapat tulisan : List ini dibuat berdasarkan pengaruh pemain terhadap dunia. Semakin tinggi kedudukanmu, semakin kuat skillmu!

Oke, aneh lagi. Akira mulai membaca nama-nama di list itu.

[#8 Akira Mercyon (lvl.1) : 107,890]

Hah?

Akira menatap kedua orang di ruang makan itu yang ternyata sudah menatapnya dari tadi.

Di hari itu, Akira terdorong ke panggung lagi.

Kltak! Sebuah pen listrik menggelinding di atas lantai

Kltak! Sebuah pen listrik menggelinding di atas lantai. Namun, sepertinya pemiliknya tidak mengjiraukannya.

[Selamat, anda telah teregistrasi sebagai pemain "Rox Miller" (lvl.1)!

Berikut adalah hadiah untuk pemain baru :

- [L] Inventor-y – menciptakan apapun yang diinginkan dari barang barang yang ada (cooldown : 0 detik)

- [U] Imajinasi yang Jelas – menggambar apapun dimanapun (cooldown : 1 hari)]

Jendela mengambang tiba-tiba muncul di depannya selagi ia menggambar. Isi dari jendela itupun aneh dan tidak masuk akal. Rox membaca jendela kedua.

[#7 Rox Miller (lvl.1) : 130,554]

Brakk!

"Kak!" adik laki-laki keduanya berlari kearahnya. Anak kecil itu memegang bahu kakaknya dengan erat dan mengguncang-guncangnya.

"Ini maksudnya apa?!" Adiknya bertanya.

"Aku gak tau! Aku sama bingungnya sama kamu!"

"Bukan! Maksudku ranking ini nih! Urutannya itu berdasarkan pengaruh seseorang! Emangnya kakak terkenal! Bukannya kakak cuma pelukis miskin yang selalu ditipu orang?!"

Rox mengkerutkan wajahnya. Walaupun itu kenyataan, adiknya tidak perlu mengatakannya juga.

Yah, tapi mengenai jendela aneh yang berada di depannya, Rox mempunyai beberapa ide mengapa dia bisa masuk ke dalam urutan 10 besar di dunia. Sebelum berpikir lebih jauh, dia menyentil jidat adiknya (dengan cinta, tentunya).

Sebelum berpikir lebih jauh, dia menyentil jidat adiknya (dengan cinta, tentunya)

Vivi membuka matanya.

Kuku monster yang menyerangnya tertahan oleh sebuah pedang. Lebih tepatnya, pedang yang digenggamnya. Pedang itu berwarna hitam pekat bagai bayangan dan mengeluarkan cahaya cahaya merah darinya.

Yang pasti, pedang itu tidak dalam genggamannya sebelumnya.

[Selamat, anda telah teregistrasi sebagai pemain "Vivi Willowspear" (lvl.1)!

Berikut adalah hadiah untuk pemain baru :

- [L] Siap Sedia – mengeluarkan senjata apapun yang diinginkan. Kekuatan senjata didasarkan kepada status kekuatan pemain (cooldown : 0 detik)

- [U] Ajarkan kepadaku! – memahami skill terkait dengan senjata 100% lebih cepat (cooldown : 1 hari)]

Vivi tidak mempunyai kesempatan untuk merenungkan apa yang baru saja muncul di depannya. Monster jelek di depannya telah mengarahkan kuku satunya lagi ke arah wajahnya. Dia menghindar ke kiri, hampir saja tergores oleh kuku monster.

Oke, Vivi memang pernah belajar tentang pedang, tapi dia tidak pernah menyangka akan menggunakannya ke sebuah monster!

Vivi mengayunkan pedangnya ke arah kanan badannya dengan sekencang mungkin. Pedang itu mengenai tangan monster yang tadi mengarah kepadanya. Monster itu mengangkat tangannya yang terluka secara insting. Vivi mengambil kesempatan itu untuk bergerak kebawah sang monster dan melukai kakinya.

Sang manusia melakukan gerakan berputar dan memutuskan salah satu kaki monster itu. Karena hanya memiliki dua kaki, monster itupun jatuh kebelakang, merubuhkan salah satu toko di jalanan itu. Vivipun naik ke badannya dan menusuk dadanya.

Tapi, bagaimana jika jantung monster itu bukan berada di dadanya? Vivi menggesek pedangnya yang masih tertancap di dada monster kearah perut monster, mengeluarkan semua isi perutnya.

Ah, tapi bagaimana jika jantung monster itu berada di kepalanya? Vivi berbalik badan dan melihat kearah monster bermata tiga itu. Tanpa pikir panjang, dia menusukkan pedangnya ke mata tengahnya.

Hm, tapi bagaimana jika sayatan Vivi tidak ada yang mengenai jantungnya? Atau bahkan dia mempunyai banyak jantung? Vivi mengangkat pedangnya dan membuat sayatan berbentuk X di kepala sang monster, membukanya sepenuhnya.

Mungkin Vivi juga harus menghancurkan semua organ yang ada di dalam monster ini. Mungkin Vivi bisa mulai dari perutnya lalu bergerak ke atas—

Ah.

Bagaikan setelah badai, awan yang menutupi pikirannya terangkat. Vivi melihat ke lingkungan sekitarnya. Orang-orang di sekitarnya menutup mata mereka, menyembunyikan anak-anak mereka, atau merekamnya. Seakan-akan Vivi adalah monsternya.

Yah, dia sudah terbiasa dengan tatapan itu. Seketika itu, Vivi mengingat tentang jendela aneh yang muncuk di awal.

[- [L] Siap Sedia – mengeluarkan senjata apapun yang diinginkan. Kekuatan senjata didasarkan kepada status kekuatan pemain (cooldown : 0 detik)

*Blood lust akan meningkat semakin lama menggunakannya. Blood lust akan mengingkatkan damage 20% setiap kenaikannya.]

Inikah penyebabnya? Vivi pikir ini berbahaya.

Vivi membaca jendela kedua.

[#5 Vivi Willowspear (lvl.1) : 157,566]

Hmm? Dia berada sangat tinggi di list ini. Apa yang membuatnya—ah, mungkin itu.

Vivi menghilangkan pedang di tangannya dan jendela di depannya. Dia hanya perlu berpikir tentang menghilangkannya dan mereka akan hilang sendiri.

Di kejauhan, dia melihat temannya yang tadi datang bersamanya untuk berbelanja. Seharusnya, ini adalah hari libur mereka diamana mereka selalu menghabiskan waktu berdua. Tapi situasi malah seperti ini. Dia, di atas sebuah monster yang sudah tidak berbentuk, dan temannya, menatap seorang gadis asing yang terluka di kejauhan.

Dia, di atas sebuah monster yang sudah tidak berbentuk, dan temannya, menatap seorang gadis asing yang terluka di kejauhan

[Selamat, anda telah teregistrasi sebagai pemain "Darren Hyn" (lvl.1)!

Berikut adalah hadiah untuk pemain baru :

- [L] Malaikat penyelamatku! – menyembuhkan semua macam luka sebesar 100% (cooldown : 3 menit)

- [A+] Penyihir dari barat – meningkatkan tingkat kesuksesan pembuatan ramuan sebesar 60% (cooldown : 0 detik)]

Bukan hanya jendela ini yang Darren pertanyakan, tapi fakta bahwa sihir ini benar-benar berfungsi.

Sejujurnya, semua terjadi dengan sangat cepat. Tepat di detik saat dia keluar dari restoran setelah guncangan hebat sebuah monster besar muncul di hadapannya dan mencengkram seorang gadis seperti dia bukan apa-apa. Monster itu kemudian menargetkan temannya, Vivi.

Ia kira semuanya akan berakhir di situ. Antara temannya akan mati atau dia akan bangun dari mimpi buruk ini.

Tapi, sesuatu lain malah terjadi.

Vivi, menghentikan serangan monster itu dengan pedang yang ia dapat entah darimana. Ketika itu sebuah jendela melayang muncul di depannya.

Darren belum sempat membaca seluruh isi konten jendela itu sebelum ia mendengar rintihan lemah dari sisinya. Gadis yang tadi dicengkram oleh minster itu merintih kesakitan. Terdapat luka terbuka di perutnya. Secara insting, Darren menghampirinya.

Ia hanya berniat untuk menahan pendarahannya atau melakukan apapun yang telah ia pelajari sebagai dokter.

Tapi dia ingin tahu.

Darren melihat ke jendela itu lagi.

[- [L] Malaikat penyelamatku! – menyembuhkan semua macam luka sebesar 100% (cooldown : 3 menit)]

Tidak ada salahnya mencoba kan?

Darren tidak tahu mencoba dengan bagaimana. Tangannya menekan luka sang gadis dengan kencang, lalu ia menutup matanya. Mungkin  cara kerjanya sama seperti bernafas. Kau tidak memikirkannya, itu hanya terjadi secara alami.

Seperti biasa, dia benar.

Cahaya hijau kebiruan menyelimuti tangannya dan bergerak menuju luka sang gadis. Luka itu menghilang, bagai tidak pernah ada. Yang menandakan adanya luka itu hanyalah darah yang tersisa di baju sang gadis.

Darren menatap sang gadis.

"K-kau lihat itu juga kan?" Tanyanya ragu.

Gadis itu mengangguk cepat.

"Te-terimakasih, udah selamatin aku! Walaupun situasinya aneh begini..," pipi gadis itu memerah.

Darren tidak tahu harus berkata apa. Ya, dia menyelamatkan gadis ini, tapi dia melakukannya untuk rasa penasarannya sendiri. Apakah dia berhak atas rasa terimakasih gadis ini? 

Namun, dia menghindari dilema moral itu dan berkata "Ya, em, sama-sama..," seperti biasa.

"Ah, apa aku boleh minta nomormu? Aku mau mengajakmu makan untuk berterimakasih!" Gadis itu menatapnya dengan penuh harapan.

"U-um," bagaimana ini? Darren tidak tau cara menolaknya! Dia terbiasa menyerahkan semua masalah "bersosialisasi" kepada Vivi– 

"Darren."

Suara familiar terdengar dari belakang Darren beserta bau amis yang menyengat. Dia memutar balik badannya dan menemukan temannya. Temannya terlihat lebih penuh darah dari sebelumnya dan monster tadi terlihat terkapar di kejauhan. Darren meraih ke kantong di bajunya untuk mengambil sebuah sapu tangan. 

"Kau terlihat senang, apa kau terluka?" katanya sambil memberikan sapu tangan kecil kepada lawan bicaranya.

Vivi menatapnya dengan mata sinis namun tetap mengambil sapu tangannya. "Lah, aku lihat kau malah menemukan cinta disini?" kata Vivi sambil mengelap pipinya, melemparkan senyum sarkas kepada temannya. Dia masih sempat meledeknya, Darren yakin dia tidak apa-apa.

Ah ya, Darren lupa tentang gadis itu. 

Darren memutar balik badannya dan sebelum dia bisa meminta maaf–

"Ah! M-maaf kalau aku mengganggu, aku pergi dulu!" dan dengan begitu, sang gadis melangkah pergi dari mereka. 

"Hah, kenapa dia?" tanya Vivi.

"Oh, aku tidak tau.. mungkin karena kau datang tiba-tiba dengan berlumuran darah?"

"Oh, maafkan aku karena aku membunuh sebuah monster yang meneror kota ini!"

"Kau? Yang membunuh monster itu?"

"Ya! Apa kau terlalu fokus pada gadis tadi selama ini?"

"Diam, bagaimana juga kau membunuh makhluk sebesar itu?"

"Dengan.., skill? Apapun kotak mengambang ini. Apa kau bisa melihatnya?"

"Ya, aku juga punya 'kotak mengambang' sendiri,"

"Haah, apalah yang sedang terjadi,"

Darren melihat kondisi Vivi sekali lagi, "Yang jelas bukan makan siang ditraktir kamu." Dia mengingat steak medium rare yang bahkan belum disentuhnya menjadi dingin. Jika dia kembali ke restoran itu, apakah mereka akan membiarkannya lanjut makan?

"Kau mengkhawatirkan itu?!"

Tiga hari telah berlalu sejak dunia digoncangkan oleh keajaiban ini

Tiga hari telah berlalu sejak dunia digoncangkan oleh keajaiban ini. 'Sistem' adalah nama yang telah diberikan kepada fenomena ini. Dunia mengira ini akan berlalu, suatu hal yang bisa dijinakkan, karena itu yang biasa terjadi kan? Manusia merupakan predator paling tinggi di bumi ini. Walaupun dengan pengorbanan, semuanya akan berlalu. Tentunya, sebuah keanehan yang terjadi di seluruh dunia akan membuat penanganannya lebih cepat.

Tapi, itu tidak terjadi. Mereka tidak tahu darimana datangnya sihir ini, apalagi cara menghilangkannya. Tidak mengagetkan, beberapa kelompok orang jatuh ke dalam panik massal. Mereka mengatakan bahwa ini adalah akhir dari dunia. Di sisi lain, beberapa orang langsung beradaptasi dengan keadaan saat ini. Menambah pengaruh mereka kepada dunia dan memanjat 'ranking' dengan cepat. 

Chloe memutar sebuah surat di tangannya. Sebuah stempel lilin emas bertuliskan 'SB' menempel di penutup suratnya. 

Satu Bumi, sebuah pergerakan fenomenal yang dicetuskan 1,000 tahun yang lalu dan membentuk Bumi saat ini. Pergerakan ini menghapus konsep negara, menyatukan seluruh dunia menjadi satu pemerintahan, dengan susah payah tentunya. Tapi, semua berakhir dengan baik dan di tahun 5.211 ini, manusia menikmati hasilnya.

Namun, di tahun 5.211 juga, menulis surat tidak pernah dilakukan lagi. Untuk apa? Semua manusia sudah memakai gelang besi di tangan mereka sejak kecil yang dapat melakukan segala fungsi, salah satunya mengirim pesan. Tetapi, dengan masalah sihir saat ini, mungkin metode itu tidak terlalu aman.

Chloe bisa menebak apa yang ditulis di atasnya. Itu sudah jelas.

Sekarang, uang merupakan konstanta kedua terpenting di dunia. Ranking menjadi yang pertama. Semakin tinggi rankingmu, semakin kuat sihir yang kau dapat. Dengan sihir ini, mendapatkan uang bukanlah hal yang sulit. 

Dengan pemutar balikkan keadaan itu, wajar bagi pemerintah untuk menggapai kepercayaan pemegang kekuasaan yang baru.

Chloe membuka amplop itu. Benar saja. Surat itu mengundang orang-orang yang berada di ranking 15 besar untuk datang ke Pusat Pemerintahan Satu Bumi dan berunding dengan mereka.

Tawa kecil keluar dari mulutnya. Tujuan dari surat ini samar, namun sangat kerang di saat yang sama. Tentu saja. Mereka ingin mengambil alih kekuatan baru yang muncul. Lagipula, itu adalah sifat manusia.

Chloe bangkit dari kursinya dan membuka pintu keluar dari ruangan kerjanya. Wangi pedas familiar membanjiri indranya.

"Ma, kayaknya aku harus pergi malam ini,"


Komentar